Jadi, Apa Bedanya Ketika Kamu ‘Punya Standar’ dengan ‘Pemilih’?

33-signs-youre-just-not-that-into-him

Di umur 22, kamu punya semua bayangan kehidupan ada di depan mata. Kamu bakal punya semua waktu di dunia ini buat menjelajahi setiap minat dan menentukan apa yang ingin kamu lakukan dengan hidupmu. Dan di umut 23, kamu juga masih tetap muda. Masih ada banya waktu untuk mencari jati diri (in case you still haven’t figured it out yet) dan mencoba berbagai karir dalam pekerjaan. Di umur 24, orang-orang masih bisa menoleransimu jika kamu masih seperti itu. Kamu masih cukup muda untuk melakukan banyak hal tanpa memedulikan apa kata orang.

Dan ketika kamu membenturkan usiamu ke angka 25, mendadak semua orang menjadi perhatian terhadap kehidupan yang selama ini bahkan nggak kamu pedulikan. Mendadak semua orang menjadi ingin tahu dengan siapa hatimu berlabuh dan kapan kamu akhirnya mengakhiri perjalanan cinta. Dan mencoba untuk memertahankan standar yang selama ini kamu punya rasanya menjadi sedikit lebih sulit. (It sucks, i know).

KARENA… di usia 22, 23, dan bahkan 24, sangat mudah bagi kita untuk membayangkan kualitas seperti apa yang kita inginkan dalam diri seorang pasangan serta percaya bahwa suatu saat kita akan menemukannya, karena settling down dengan seseorang untak selamanya masih nampak terlalu jauh bagi kita. Di awal 20, kamu dan temanmu pasti akan lebi sering mengunjungi kafe dan minum bir atau kopi, serta merencanakan liburan pendek dadakan, and living in a world where your only deadlines are work-related.

Emotional-related pressures have not yet seeped into your everyday thinking.

7028372-girl-with-daffodil-flower

Namun perlahan, kemudian seketika, kamu ada di pertengahan 20an dan sebagian besar orang telah menikah. Kamu terus-terusan melihat postingan pertunangan dan pernikahan di Facebook. Bahkan rasanya menemukan partner impian adalah hal yang mustahil lagi kamu lakukan. Garis antara menggenggam kehidupan cintamu tetap pada standar yang jelas, dengan ketidakmampuanmu untuk menentukan keputusan rasanya menjadi kabur dan tak jelas.

It is hard to understand when you’re settling out of fear, and when you’re holding out to the point of being shallow and illogical about what your life partner should be like.

Sejak kapan kamu berhak untuk mengeluh terhadap apa yang tak kamu punya? Kualitas apa yang harus dimiliki calon pasanganmu dan yang tak boleh dimiliki? Apa perbedaan antara menjadi sosok yang fleksibel versus seseorang yang hanya punya satu tujuan jelas dan mantap? Semua pertanyaan yang mungkin nggak akan muncul di usia 22mu. Karena pacaran di usia 22 rasanya akan jauh lebih sederhana daripada ini semua. Pacaran di usia 22, segalanya tentang menjelajah dan menemukan apa yang kamu suka dan benci di dalam diri pasangan, dan tentang bagaimana kamu ingin dicintai sebagai individu jika dibandingkan dirimu sebagai pasangan.

Namun sekarang, pacaran rasanya jadi hal yang membuat kita semua terburu-buru. Rasanya menjadi seperti permainan yang selalu melemparkan dadu sehingga kamu akan maju lebih cepat menuju garis akhir. Dimana kamu sangat putus asa untuk menentukan apakah kamu akan tetap jujur terhadap diri sendiri dan mengikuti kehendak pasangan, tapi juga ingin menghindari kemungkinan hubungan yang gagal sehingga kamu tak perlu mengulang dari awal.

36654ef83c02db605a6bdcdb32f4479c

DAAAN… kini kamu mulai memikirkan apakah kamu terlalu pemilih selama ini? Apa kamu terlalu memendam perasaan pada seseorang yang bahkan kamu tak tahu ia ada atau tidak. Pun jika ada, apa kamu perlu memikirkan ulang semua standarmu, dan seberapa jauh kamu harus kembali menurunkan standar untuk bersamanya? Punya standar sebenarnya juga akan menyelamatkanmu untuk sebuah hubungan jangka panjang, selama kamu juga bersikap realistis terhadap standar apa yang memang memenuhi harapanmu. Menunggu seseorang yang tinggi dan punya rambut keren serta rasa humor yang bagus serta memiliki latar belakang keluarga elit — itu namanya PEMILIH.

That’s you trying to control every single aspect of your love life – that is shallow, foolish, and hopeless.

But holding out for someone that makes you smile, someone you trust, someone who supports you, someone who (while they don’t necessarily have the same passions as you) is at least interested in your passions because they care about what you care about – that is having standards. There is nothing wrong with that.

Mungkin pasanganmu bukanlah orang paling lucu yang pernah kamu temui — tapi  ia adalah orang yang tepat karena masih bisa membuatmu tersenyum. Mungkin dia nggak akan sesemangat kamu ketika kamu terjun ke dapur dan memasan — tapi ia akan tetap makan masakanmu meski tak enak sekalipun, karena ia tahu bahwa makan masakanmu membuatmu bahagia. Mungkin ia nggak datang dari keluarga besar elit seperti harapanmu — namun ia adalah orang yang tepat yang akan selalu berbagi cinta kasih sehingga kamu tak akan merasa kekurangan.

It’s not about pinpointing exact qualities you are looking for in another person; it’s about knowing what you need to get out of a relationship in order to be happy.

So when you think about it, the line between having standards and being picky is not as blurred as you think it is. As long as you’re looking for a partner, not a checklist.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *