Untuk Alam Semesta

 

Untuk Semesta,

Apa kamu berbaik hati padaku akhir-akhir ini karena setitik nyeri yang kamu sematkan di dalam hati? Apa kamu sudah merencanakan setiap detilnya?

Kamu mengambil sesuatu dariku; kamu mengambil satu bagian kecil dari hatiku: sekumpulan warna.

Sebenarnya warna-warna itu adalah hal yang membuat anggota tubuhku tetap pada tempatnya. Kini kamu menarik kumpulan warna itu dan entah sengaja atau tidak kamu menjatuhkannya, menggantikan warna-warna itu dengan kebencian dan kegagalan.

Terima kasih.

Terima kasih untuk “yin dan yang” yang telah kamu perlihatkan padaku – dan yang membuatku percaya padamu. Terima kasih untuk kegelapan, untuk rasa sakit, dan untuk tragedi.

Cahaya kilatmu menghancurkan inti hatiku dan di dalam genangan keputusasaan, jiwaku mulai tenggelam. Kamu meninggalkanku: setengah telanjang dan sendirian.

Di dasar aku menemukan celah yang kamu bangun untukku, kemudian celah itu kusebut rumah.

Kini kecantikanmu semakin memperdayaku. Ketika angin malammu membungkus tubuhku aku seolah ikut tertarik ke dalam dengan mudahnya; aku hidup; aku terbangun.

Sebuah helaan nafas di antara tragedi dan ironi telah mengajarkan kakiku untuk mampu mengangkat tubuhku.

Kamu telah memberiku waktu dan mimpi, dan apapun yang terletak di antaranya. Kamu telah memperlihatkanku keajaiban dan cahaya matahari, secuil kematian dan sekeping kehidupan.

Kamu telah melengkapiku dengan seperangkat kekuatan dan telah memainkan lagu indah untuk didengarkan: sebuah cahaya abadi yang menunggu di ujung kalimat gelap.

Thank you for sharing it all with me.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *